Loper Koran yg Kuliah di Amerika

BAGI SEMUA YG MASIH PUNYA MIMPI:::::::::::::SIMAK INI TEMAN2

 

 

Tukang Koran

Bertho Darmo Poedjo Asmanto

 

Saya tulis cerita ini saat saya baru saja selesai mengikuti Executive Education International Management Program di Massachusetts Institute of Technology (MIT) Sloan School of Management, USA, pada 29 Juni 2007 lalu. Saat graduation, saya menitikkan air mata dan teringat kenangan sekitar 25 tahun lalu.

Saat itu hujan begitu deras dan tubuh saya hanya berbalut plastik besar. Sementara koran-koran yang siap diantar tetap tertutup rapi dengan plastik. Selepas subuh itu, sambil menangis dan berdoa kepada Allah, saya bertekad memperoleh kehidupan yang lebih baik. ”Saya harus sekolah yang tinggi!” kata saya dalam hati di atas sepeda yang melaju kencang di daerah Tebet Jakarta.

Berjualan dan mengantar koran saya lakoni sejak kelas 3 SD (1982) sampai kuliah tingkat 2 (1994). Dua belas tahun, waktu yang sangat panjang dan, tentu saja, meninggalkan banyak kenangan. Kenangan yang membuat diri saya kuat secara fisik dan mental dalam mengarungi tantangan kehidupan.

Bangun pagi karena harus mengantar koran akhirnya menjadi kebiasaan saya sehari-hari. Koran harus diantar sebelum jam 6.30. Setelah itu saya ke sekolah. Padahal wilayah yang saya arungi lumayan jauh. Pelanggan saya tersebar di Tebet Mas, Tebet Barat, Tebet Utara, Tebet Timur, Lapangan Ross, Kebon Baru, dan Gudang Peluru. Sebagian besar korannya adalah Kompas, Pos Kota, Media Indonesia (dulu: Prioritas), Sinar Pagi, Merdeka, Jayakarta, Intijaya, dan sebagainya. Termasuk juga majalah Tempo, Femina, Family, Kartini, Jakarta-Jakarta, Bobo, Donald Bebek, Kawanku, Bola, dan lain-lain.

Kalau koran datang pagi sekali, saya happy. Berarti pekerjaan bisa lebih cepat dan segera ke sekolah. Tapi kalau koran kesiangan, saya pasti terlambat ke sekolah. Kalau begini, kakak atau orangtua saya yang repot. Merekalah yang kemudian mengantar koran-koran itu.

Kalau kesiangan, pelanggan pasti ada yang marah. Lucu juga, ada pelanggan yang sering terlambat bayar tagihan, tapi kalau koran kesiangan dia marah besar. Kalau sudah begitu, saya cuma bisa menggerutu: ”Sering terlambat bayar, kok mencak-mencak?!”

Saya juga punya pelanggan yang rumahnya dijaga anjing galak. Dia selalu duduk di depan pagar. Jadi kalau saya mau lempar koran, saya harus ambil ancang-ancang dari jauh. Saya pasti ngebut, dan tanpa ba-bi-bu-ba-ba saya langsung lempar koran itu. Setelah itu, guk guk guk…anjing itu pasti mengejar saya sampai beberapa meter. Kejadian ini setiap hari saya alami, kecuali koran libur, alias tidak terbit. Tapi kalau hujan, saya paling senang. Anjing itu tidak berani keluar atau muncul di depan pagar. Dia cuma bisa diam dan melongo kalau koran saya melayang baik ke garasi rumah tuannya. Paling hanya guk guk guk…tapi dia tidak berani ngejar. Kalau sudah begitu, saya ledek dia: ”Wekk..!

Tapi kalau hujan terus, repot juga. Saya harus menyediakan banyak plastik agar koran tidak basah. Saat itu saya punya pelanggan sekitar 100 orang. Bayangkan, berapa rupiah harus saya modali buat beli plastik. Apalagi kalau sedang musim hujan! Kalau tidak bisa beli plastik, saya lempar koran sekuat mungkin ke tempat yang aman dari hujan. Tapi tidak apa-apa. ”Yang penting pelanggan puas, tidak komplain atau marah-marah!” kata saya saat itu.

Walau sering kehujanan, saya suka sekali pekerjaan ini. Saya bisa lebih sehat karena menggenjot sepeda berkilo-kilo meter setiap pagi. Saya juga bisa punya uang sendiri dan bisa sekolah. Tapi sedihnya, kalau subuh saya tidak bisa ke masjid. Saya sholat di rumah. Koran sering datang dari penerbit pada saat adzan subuh berkumandang.

Saking ingin ke masjid, saya pernah diteriaki maling. Waktu itu bulan Ramadhan. Koran Kompas datang jam 3 pagi. Agar bisa subuh di masjid, selesai saur saya antar koran-koran itu, termasuk ke perumahan elit Tebet Mas Raya. Saat itu portal pintu gerbang utamanya masih ditutup. Tapi saya nekat masuk lewat bawahnya. Eeeh..pas mau lempar koran di rumah pelanggan, saya diteriaki maling oleh satpam di situ. Saya kaget bukan main dan takut sekali. Apa jadinya kalau para penghuni kompleks keluar rumah dan terpengaruh teriakan satpam tadi.

Tapi saya buru-buru dekati satpam tersebut. ”Pak..pak..saya ini tukang koran. Saya bukan maling Pak. Saya anak sekolahan Pak. Sekolah saya di SMA 8! Pak” kata saya. Saya sengaja menyebut nama sekolah saya itu supaya dia mengerti. Apalagi SMA 8, sekolah terkenal dan favorit. ”Ooh..kamu tukang koran. Maaf deh. Habis, kok nganter koran pagi-pagi banget! Ya udah segera pergi sana. Syukur belum digebukin orang sampeyan!” kata dia. ”Weleh-weleh Mas…mbok ya lihat-lihat dulu gitu lho. Jangan langsung teriak-teriak kayak gitu!” dumel saya.

Sambil menggenjot sepeda, saya menangis dan berdoa semoga Allah SWT senantiasa memberikan kekuatan pada saya. Sampai di rumah, saya ceritakan kejadian tadi ke Ibu saya. Beliau menangis dan menasehati saya. ”Ibu sedih banget dengarnya To…Sabar ya Ato..sabar…” kata beliau. Ato, nama panggilan saya di rumah sejak kecil. Saat itu saya kelas 2 SMA.

Selama menjadi tukang koran, saya takut kalau ada teman sekolah yang tahu. Waktu saya SD, rasa malu itu belum ada. Tapi pas SMP, rasa malunya bukan main. Karena puber mungkin!

Setiap ada bis Kopaja S68 atau Metromini S60, saya pasti segera menurunkan bagian depan topi saya. Saya tidak ingin wajah saya terlihat. Khawatir, kalau-kalau di dalam bis ada teman sekolah.

Tapi ternyata ketahuan juga. Saat sebuah Kopaja akan lewat, saya segera menurunkan topi. Setelah Kopaja itu lewat, saya naikkan lagi topi itu. Eeeeh tiba-tiba ada Kopaja lagi dari belakang. Bis itu langsung minggir dan berhenti di depan saya, menurunkan penumpang. Rupanya, bis-bis itu saling kejar-kejaran. Saya kaget, berhenti mendadak dan tidak sempat menurunkan topi. Tanpa disadari, saya menengok ke kanan, dan eeeh…tidak tahunya, ada wajah yang saya kenal. Dia berusaha melihat dan memperhatikan saya. Mungkin dia sedang berpikir, ini si Bertho bukan ya? Saya segera balikkan kepala dan pura-pura tidak tahu. Saya langsung pergi. Tapi pas di sekolah, dia mendekati saya dan bertanya ”Elo tukang koran ya?” Wah…malu sekali saya waktu itu. Apalagi yang bertanya itu cewek! Ha ha ha… itu waktu SMP kelas 1. Saya sekolah di SMPN 115 Tebet. Ngetop juga katanya!

Ada lagi. Sebagai warga negara yang patuh aturan, setiap lampu merah sepeda saya hentikan. Termasuk saat berhenti di lampu merah dekat warung Tegal ”Warmo.” Habis itu, saya menengok ke kanan. Pada saat yang sama, ada mobil sedan biru berhenti dan pengemudinya langsung menengok ke kiri. Matanya beradu pandang dengan saya. Ternyata….itu teman saya sebangku di SMA! Weleh-weleh…Sampai di sekolah, dia juga tanya ”Elo tukang koran ya?” He he he..tapi yang ini cowok.

Ceritanya belum habis. Saat saya menagih uang pelanggan baru di Tebet Utara, saya ketangkep lagi. Habis tekan bel, terdengar teriakan ibu-ibu dari dalam rumah. ”Vera…coba lihat siapa tuh!” Si anak yang disebut Vera tadi segera keluar. Ternyata..hmm..gawat…lagi-lagi teman saya sekelas SMA! Saya tidak bisa melarikan diri. Si Vera terkejut dan bertanya: ”Ooh elo To. Kirain siapa. Ada apa? Kok gak bilang mau ke sini?” ”Wah gimana ini?” pikirku dalam hati. Bilang mau apel pasti tidak mungkin…karena memang tidak naksir anak ini. He he he..Mau bilang pinjam buku, juga tidak mungkin…karena tidak akrab-akrab banget sama dia. ”Hmm..mm..saya mau nagih uang koran,” kata saya dengan malu. ”Ha? Yang bener? Jadi elo selama ini yang ngantar koran ke rumah gue. Wah gue gak tau…gak nyangka kalo tukang korannya elo, Bertho. Masuk-masuk..ayo duduk dulu!” Wuahhahaha…kek..kek…kek!

Memang tidak bisa disembunyikan rupanya. Teman-teman semakin banyak yang tahu. Tapi alhamdulillah…mereka yang tahu, tidak ada yang membocorkan ke yang lain. Kalau pun tahu, tidak ada yang berani mengejek. Tampaknya mereka mengerti keadaan saya. Saya pun berpikir dan mulai percaya diri. Kenapa mesti malu jadi tukang koran? Selama ini halal tidak perlu sembunyi-sembunyi. Toh dengan menjadi tukang koran, saya bisa sekolah dengan baik. Apalagi saya termasuk anak yang pandai dan selalu menjadi juara 1 (khususnya di SD & SMP, dan 5 besar di kelas di SMA).

Dengan koran, saya juga bisa kursus bahasa Inggris di LIA. Gaul dengan teman-teman yang punya banyak duit di sana. Pun kemudian, saya bisa masuk UI, kuliah di jurusan Hubungan Internasional, dengan biaya sendiri. Ssstt…ini juga pasti banyak teman kuliah yang belum tahu. He he he..

Alih Profesi

Tapi saya pensiun juga jadi tukang koran. Itu terjadi saat saya kuliah tingkat 2. Ketika itu saya bisa mengajar dan memberi les kepada 7 anak (3 SD, 3 SMP dan 1 SMA) di daerah saya tinggal. Satu anak membayar Rp 50.000,- per bulan. Jadi setiap bulan saya mengumpulkan uang Rp 350.000,-, jumlah yang lumayan besar pada saat itu (1992).

Setelah alih profesi, cita-cita saya sholat subuh di masjid se

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s